P E T I R
Pendahuluan
Petir
adalah pelepasan energi listrik di atmosfir dari area yang bermuatan ke area
lainnya dengan muatan berbeda yang terjadi selama badai guruh. Pelepasan
energi listrik ini biasanya diikuti dengan munculnya kilatan cahaya tampak dan
radiasi elektromagnetik. Arus listrik yang melewati kanal pelepasan muatan
dengan cepat memanaskan udara sekitar sehingga udara sekitar mengembang dengan
tiba-tiba yang mengakibatkan terjadinya ledakan udara dan timbulnya bunyi
(guruh) di atmosfir.
Petir
dapat terjadi di dalam awan, antara awan dengan awan atau antara awan dengan
bumi. Bahkan petir dapat terjadi di dalam awan abu letusan gunung berapi atau pada
kumpulan debu dengan cukup muatan statis yang diakibatkan oleh kebakaran hutan.
Pada
sambaran pertama petir yang terjadi antara awan dengan awan atau antara bumi dengan
awan dapat membangkitkan arus listrik melebihi 140.000 ampere, kemudian
kekuatanya dapat berangsur-angsur turun setelah beberapa kali sambaran.
Dengan
intensitas yang demikian dahsyat, sambaran petir dapat mengakibatkan kerusakan
pada harta benda dan bahkan kematian manusia baik yang tersambar secara
langsung atau karena surja listrik yang menginduksi.
“Dan satu suara keras yang
mengguntur menimpa orang-orang yang zalim itu, lalu mereka mati bergelimpangan
di tempat tinggal mereka (QS 11:67)
“Dan GURUH itu bertasbih dengan memuji Allah,
demikian pula para malaikat karena takut kepada-Nya, dan Allah melepaskan
HALILINTAR, lalu menimpakan kepada siapa yang Dia kehendaki; dan mereka
berbantah-bantahan tentang Allah, dan Dia-lah Tuhan Yang Maha keras siksa-Nya
(QS 13:13)
Proses Terjadinya Petir
Ada
beberapa teori mengenai proses terjadinya awan petir, namun hingga hari ini
para ahli belum sepakat mengenai teori mana yang benar-benar sesuai. Salah satu
teori yang banyak dipercaya adalah sebagai berikut.
Umumnya
petir terbentuk pada awan cumulonimbus. Tahap pembentukan awan petir
diawali dengan uap air yang naik karena terkena sinar matahari dan kemudian
mengumpul dan membentuk awan bernama cumulus mulai pada ketinggian
sekitar 2 km. Dengan bertambahnya uap
air yang naik dan kondisi atmosfir yang tidak stabil, awan cumulus ini
bertambah besar secara vertikal (bertambah tinggi). Awan cumulus yang
bertambah tinggi ini dinamai cumulus congestus. Pada saat atmosfir
bertambah tidak stabil, gumpalan awan semakin pekat, mengandung banyak uap air
dan bertambah tinggi untuk kemudian membentuk awan cumulonimbus atau
dikenal sebagai awan cb.
Di dalam setiap awan cb, uap air berubah menjadi kristal es dan butiran
salju. Tabrakan antara kristal es dan butiran salju menyebabkan sang kristal
mengandung muatan positif sedangkan butiran salju mengandung muatan negatif. Kristal
es yang lebih ringan daripada salju cenderung naik ke bagian atas awan cb karena
terbawa udara yang bergerak ke atas, sedangkan salju
cenderung berkumpul di bagian bawah awan cb dan mengandung muatan negatif. Pada
saat lebih dari 1 awan cb berdekatan, maka muatan listrik yang berada dalam
masing-masing awan cenderung 'meloncat' mencari pasangan masing-masing dan menghasilkan
kilatan yang dinamakan petir.
Selain berpindah antar awan cb, muatan listrik negatif yang berada di
bagian
bawah awan itu juga bisa terhubung oleh uap air dan hujan untuk mendekat ke
permukaan tanah. Permukaan tanah bisa memiliki muatan negatif maupun
positif. Muatan positif bisa berkumpul pada pepohonan, gedung, tiang yang
tinggi dan juga manusia. Benda bermuatan positif yang lebih tinggi akan
lebih mudah disambar oleh muatan negatif dari awan cb untuk menuju bumi.
Ketika petir lewat, ia membelah udara dengan cepat dan panas yang dihasilkan
mencapai 50.000 derajat Fahrenheit. Udara yang terbelah ini kemudian stabil
kembali sambil menimbulkan bunyi bergemuruh yang dinamakan guntur. Lokasi petir
dapat diperkirakan dengan cara menghitung selang waktu petir dan guntur yang
didengar. Setiap selang waktu 5 detik berarti jarak petir adalah 1 mil (1,6 km)
dari posisi kita berdiri. Petir bisa menyambar apapun yang ada
dalam radius 10 mil (16 km).

Pada
saat muatan negatif dari awan cb telah hilang, muatan positif yang
berada di bagian atas awan masih tertinggal. Muatan positif ini kemudian
akan mendominasi seluruh awan cb dan memiliki kemungkinan menyambar muatan negatif
yang ada di permukaan bumi. Petir yang ditimbulkan dari muatan positif awan cb
lebih berbahaya daripada petir muatan negatif karena
jangkauannya lebih jauh dan terjadi pada saat hujan telah reda (kita selalu
menganggap segera sesudah hujan situasi telah aman). Menurut
website NOAA,
dalam jangka waktu 30 menit setelah hujan petir reda masih tergolong rawan
oleh sambaran petir dari muatan positif tersebut.
Tahapan Sambaran Petir
Seperti
sudah disampaikan di atas, karena terjadi proses ionisasi di dalam awan cumulonimbus,
maka terjadi pemisahan muatan listrik. Muatan listrik negatif terkumpul di
bagian bawah sedangkan muatan positif terkumpul di bagian atas awan cb. Muatan
negatif pada bagian bawah awan menyebabkan terinduksinya muatan positif di
permukaan bumi, sehingga terbentuk medan listrik antara awan dan bumi.
Terdapat isolator udara yang menyelubungi awan sehingga untuk sementara
waktu tidak terjadi aliran arus listrik antara awan dan tanah. Namun, karena proses ionasi
yang terus menerus maka muatan di dalam awan bertambah besar, akibatnya pada
titik tertentu medan listrik yang dihasilkan mencapai level breakdown
voltage (kira-kira 100 juta volt) yang menyebabkan terjadinya pelepasan
muatan dari awan petir ke bumi (downwards leader).
Pelepasan muatan elektron (downward leader)
ini pada umumnya berupa lidah-lidah petir yang bercahaya yang turun bertahap
menuju permukaan bumi dengan kecepatan rambat rata-rata 100 - 800 km/detik.
Terbentuknya downward leader dengan
kecepatan yang tinggi menyebabkan naiknya medan
listrik yang dihasilkan antara ujung lidah petir tersebut dengan permukaan
bumi. Sehingga menyebabkan terbentuknya upward
leader yang berasal dari puncak-puncak tertinggi dari permukaan bumi. Proses ini berlanjut hingga keduanya bertemu
di suatu titik ketinggian tertentu, yang dikenal dengan striking point.
Dengan demikian maka lengkaplah sudah pembentukan
kanal lonisasi antara awan petir dan bumi, pada akhirnya kanal ionisasi ini
merupakan saluran udara yang memiliki konduktifitas yang tinggi bagi arus petir
yang sesungguhnya.
Return
stroke yang diistilahkan dengan sambaran balik merupakan
arus petir yang sesungguhnya yang mengalir dari bumi menuju awan petir melalui
kanal ionisasi yang sudah terbentuk di atas.
Oleh karena kanal udara yang terionisasi ini
memiliki konduktivitas yang tinggi, maka kecepatan rambat arus petir ini jauh
lebih cepat dibandingkan dengan kecepatan rambat dari step leader, yaitu ±
20.000 - 110.000 km/detik.
Jenis-jenis Petir
Sambaran petir mempunyai karakteristik
berbeda-beda, untuk itu para ahli dan masyarakat umum telah memberikan istilah
untuk beberapa jenis petir sebagai berikut:
Petir di dalam awan, sheet
lightning, anvil crawlers
Petir yang terjadi di dalam suatu awan adalah jenis
yang paling umum dijumpai. Petir jenis ini sepenuhnya terjadi di dalam satu
awan cumulonimbus yang umum disebut sebagai anvil crawler atau
ada juga yang menyebutnya petir laba-laba. Pelepasan muatan listrik pada petir
jenis ini bergerak ke sisi atas awan cumulonimbus kemudian bercabang
pada puncaknya. Sedangkan sheet lightning dapat dilihat apabila petir
terjadi di dekat cakrawala, petir yang tampak hanyalah berupa awan yang
bercahaya sesaat.
Petir awan ke tanah,
anvil-to-ground lightning
Petir awan ke tanah terjadi bila pelepasan muatan
listrik yang besar terjadi antara awan cumulonimbus dengan tanah yang
diawali oleh sambaran downward leader. Petir
jenis ini berada pada urutan kedua yang sering terjadi. Salah satu jenis petir
awan ke tanah adalah anvil-to-ground lightning, merupakan bentuk petir
positif berasal dari puncak landasan awan cb tempat kristal-kristal es
bermuatan positif terbentuk. Pada petir ini sambaran mengarah nyaris horisontal
hingga akhirnya berbelok ke tanah. Umumnya terjadi bermil-mil dari badai utama
dan dapat menyambar pada cuaca yang cerah. Ditandai dengan adanya
badai dan dikenal pula sebagai "bolts out of the blue” .
Bead lightning, ribbon
lightning, staccato lightning
Jenis petir awan ke tanah yang lain adalah petir
manik-manik (bead lightning). Ini adalah petir awan ke tanah biasa yang mempunyai
intensitas cahaya yang lebih tinggi. Ketika cahaya saat pelepasan muatan mulai
memudar akan tampak efek rangkaian manik-manik sesaat di kanal leader. Jenis
ketiga petir awan ke tanah adalah petir
pita (ribbon lightning) yang terjadi pada saat badai guruh dan tiupan
angin yang tinggi serta return stroke berulang-ulang. Angin akan meniup
setiap return stroke berikutnya secara perlahan ke sisi return stroke
sebelumnya dan mengakibatkan efek pita. Yang terakhir dari petir awan ke
tanah adalah petir staccato, tidak lebih dari satu leader stroke
dengan hanya satu return stroke.
Petir awan ke awan
Petir awan ke awan atau antar awan adalah jenis
petir yang jarang terjadi. Pelepasan muatan terjadi antara dua atau lebih awan cb yang benar-benar
terpisah.
Petir tanah ke awan
Petir tanah ke awan adalah petir dengan pelepasan muatan dari tanah ke awan
cb pada sambaran upward leader.
Petir panas atau petir
musim panas
Petir panas atau di Inggris disebut petir musim
panas adalah tidak lebih dari kilat semu suatu petir di cakrawala atau awan
yang lain yang terlihat dari jarak yang jauh dari tempat badai petir terjadi. Dinamakan
petir panas karena sering terjadi pada malam dengan suhu udara yang panas di
musim panas. Petir panas bisa jadi merupakan tanda peringatan awal bakal
terjadinya badai petir.
Petir bola (ball
lightning)
Petir bola digambarkan sebagai suatu bola yang mengapung dan bersinar
yang terjadi selama badai petir. Bisa jadi bergerak cepat, bergerak lambat atau
mendekati diam. Beberapa di antaranya bersuara mendesis, gaduh atau tidak
bersuara sama sekali.
Energi Petir
Kedahsyatan petir yang kita lihat sehari-hari
memang bukan tanpa alasan. Energi yang dilepaskan oleh satu sambaran petir saja
jumlahnya lebih besar daripada energi yang dihasilkan oleh seluruh pusat
pembangkit tenaga listrik di Amerika. Suhu pada kanal petir yang terbentuk bisa
mencapai 10.000 derajat Celsius. Sebagai perbandingan, suhu untuk meleburkan
besi adalah antara 1.050 - 1.100 derajat Celsius.
Panas yang dihasilkan oleh satu sambaran petir
terkecil bisa mencapai 10 kali lipatnya. Sebagai perbandingan lain adalah suhu
permukaan matahari yang mencapai 700.000 derajat Celsius. Berarti suhu petir
adalah 1/70 dari suhu permukaan matahari.
Cahaya petir lebih terang dari cahaya yang
dikeluarkan oleh 10 juta bola lampu pijar yang masing-masing berdaya 100 W.
Sebuah sambaran petir berukuran rata-rata memiliki energi yang dapat menyalakan
sebuah bola lampu 100 W selama lebih dari 3 bulan. Kekuatan listriknya sekitar
20.000 ampere atau 80 kali lebih kuat dari kekuatan las untuk mengelas baja. Sedangkan
energi yang dihasilkan oleh satu sambaran petir dapat mencapai 55 kW jam.
Kilatan petir bergerak dengan kecepatan 150.000
km/detik atau sekitar setengah kali kecepatan cahaya dan 10.000 kali lebih
cepat dari suara yang kemudian terdengar dengan kecepatan 96.000 km/jam.
Sambaran pertama mencapai titik pertemuan atau permukaan bumi dalam waktu 20
milidetik, dan sambaran dengan arah berlawanan menuju ke awan dalam waktu 70
mikrodetik. Secara keseluruhan, petir berlangsung hanya dalam waktu setengah
detik. Jadi mustahil bagi kita untuk bisa menghindar bila petir sudah terjadi
dan menyambar tempat kita berada.
Statistik menunjukan bahwa besaran arus petir
umumnya berkisar antara 30-80KA (pernah pula terdeteksi sampai 300kA) dan untuk
lengkapnya dapat dilihat pada tabel di bawah ini. Semakin
besar arus petir pada gilirannya akan menyebakan kenaikan tegangan.
Tingkat Keraunik
Menurut definisi W.M.O (World Meteorological
Organization), hari terdengar guntur
atau guruh paling sedikit satu kali dalam jarak kira-kira 15 km dari stasiun
pengamatan disebut hari guruh (thunderstorm day). Keraunic level
merupakan ukuran tingkat keseringan sambaran petir pada suatu daerah. Sedangkan
garis yang menghubungkan daerah-daerah dengan jumlah hari guruh yang sama
disebut Iso-Keraunic Level (IKL) sehingga setiap negara di dunia
mempunyai peta hari guruh (iso-keraunic map).

Kepulauan indonesia yang terletak di daerah katulistiwa dengan
temperatur dan kelembaban udara yang tinggi, mengakibatkan tingkat hari guruh
yang sangat tinggi pula. Dengan tingkat keraunik (100-200 hari per tahun),
Indonesia merupakan wilayah dengan tingkat keraunik tertinggi di dunia, bahkan
daerah Cibinong sempat tercatat pada Guiness Book of Record 1988, dengan jumlah
322 petir pertahun. Kerapatan petir di Indonesia juga sangat besar yaitu 12/km2/tahun
yang berarti setiap luas area 1 km2 berpotensi menerima sambaran
petir sebanyak 12 kali setiap tahunnya. Berikut ini tabel hari guruh per tahun
di beberapa negara dunia.
|
Hari guruh per tahun (IKL)
|
|
Argentina
|
30 - 80
|
|
Brazil
|
40 - 200
|
|
Hong Kong
|
9 - 100
|
|
Indonesia
|
180 – 260
|
|
Malaysia
|
180 – 260
|
|
Singapore
|
160 – 200
|
|
Thailand
|
90 – 200
|
Parameter Petir
Untuk mempelajari efek perusakan akibat sambaran
petir dan kemungkinan pemanfaatan energi petir, perlu dilakukan analisis
kuantitatif secara matematis kelistrikan. Dari parameter yang didapat tersebut
pada akhirnya dapat ditentukan jenis dan dimensi alat pengaman yang perlu
didesain dan direkayasa alat untuk memanfaatkannya.
Terdapat 2 (dua) jenis parameter petir yang perlu
diperhatikan, yakni parameter arus petir dan kerapatan sambaran petir ke tanah.
Parameter arus petir
Parameter arus petir digunakan untuk menentukan
dimensi alat proteksi petir. Efek mekanis dan termis petir adalah berkaitan
dengan nilai puncak arus (I), Muatan (Q) yang terdiri dari muatan total
(Qtotal), muatan impuls (Qimpuls) dan
energi spesifik (W/R). Nilai tertinggi parameter ini terjadi pada sambaran positif.
Efek merusak yang ditimbulkan tegangan induksi berkaitan kecuraman muka
kurva arus petir. Untuk kepentingan perancangan, digunakan kecuraman rata-rata
antara 30% dan 90% nilai arus puncak. Nilai tertinggi parameter ini terjadi pada sambaran
negatif ikutan.
Nilai parameter petir sesuai dengan tingkat
proteksi menurut SNI 03-7015-2004 adalah seperti pada tabel berikut.
|
Parameter
petir
|
Tingkat
proteksi
|
|
I
|
II
|
III
- IV
|
|
Nilai arus puncak
|
i (kA)
|
200
|
150
|
100
|
|
Muatan total
|
Qtotal (C)
|
300
|
225
|
150
|
|
Muatan impuls
|
Qimpuls (C)
|
100
|
75
|
50
|
|
Energi spesifik
|
W/R (kJ/Ω)
|
10.000
|
5.600
|
2.500
|
Parameter arus petir terdiri dari:
Arus petir puncak atau maksimum
(i)
Adalah harga arus maksimum atau puncak impulse petir (i) yang mengalir pada titik sambaran. Apabila arus petir maksimum
dan tahanan pentanahan (R) obyek diketahui, maka akan dapat dengan mudah
dihitung nilai jatuh tegangan (Um) dengan rumus:
Dengan:
Um = Jatuh
tegangan
i = Arus
petir puncak atau maksimum
R = Tahanan pentanahan
Akibat jatuh tegangan pada ujung obyek maka akan
terdapat beda potensial antara ujung sumber dengan ujung obyek, sehingga
apabila terjadi sambaran petir dapat berakibat pada rusaknya perangkat tersebut.
Pada teori bola gulir atau rolling sphere, nilai arus puncak
digunakan pula untuk menentukan besarnya jari-jari bola gulir.
Muatan petir
Merupakan ukuran energi arus petir sebagai arus loncat petir ke logam. Besarnya
muatan petir yang menyambar suatu obyek berpengaruh pada besarnya kerusakan
yang terjadi pada benda tersebut. Energi yang menghantam titik sambaran petir
berbanding lurus dengan besar muatan petir (Q) dan jatuh tegangan antara anoda dan katoda (Vak).
Muatan dan energi petir yang menimpa titik sambaran petir dapat
dihitung berdasarkan rumus berikut:
Dengan:
Q = Muatan
petir
W = Energi yang menimpa titik sambaran petir
i = Arus petir yang mengalir pada titik sambaran petir
Energi Spesifik Arus Petir atau Kwadrat Arus Impuls (Ws).
Energi spesifik arus petir merupakan besarnya energi panas yang
diakibatkan arus impuls petir. Nilai energi spesifik arus petir berbanding
lurus dengan integral kwadrat arus impuls.
Dengan:
Ws = Energi spesifik petir
i = Arus petir
t = Waktu
Kecuraman maksimum Arus Petir (di/dt) .
Kecuraman maksimum arus petir menentukan besarnya tegangan induksi yang
dapat terjadi (U).
Dengan:
U = Tegangan
induksi akibat petir
L = Induktansi
metal/kabel dalam henry
di/dt = Kecuraman
arus petir atau laju kenaikan arus terhadap waktu
Seperti telah disebutkan di atas, parameter di/dt berpengaruh pada
nilai tegangan induksi saat terjadinya sambaran petir pada konduktor. Dengan
mengetahui nilai kecuraman arus petir pada akhirnya dapat ditentukan dimensi
konduktor pengaman petir.
Parameter kerapatan
sambaran petir ke tanah
Metode Penangkal Petir
Metode sistem proteksi sudut
Petir adalah sebuah cahaya yang terang benderang yang dihasilkan oleh
tenaga listrik alam yang terjadi di antara awan-awan atau awan ke tanah. Sering
kali terjadi bila cuaca mendung atau badai.
- Identifikasi Bahaya dan Analisa Resiko
- Terhadap Manusia
Apabila aliran listrik akibat sambaran petir mengalir melalui tubuh
manusia maka organ-organ tubuh yang dilalui oleh aliran tersebut akan
mengalami kejutan (shock). Arus tersebut dapat menyebabkan berhentinya
kerja jantung. Selain itu efek rangsangan dan panas akibat arus petir
pada organ-organ tubuh dapat juga melumpuhkan jaringan-jaringan /
otot-otot bahkan bila energinya besar dapat menghanguskan tubuh manusia.
Perlu diketahui yang menyebabkan kematian bukan
saja karena sambaran langsung tapi juga sambaran tidak langsung, karena di
sekitar titik / tempat yang terkena sambaran akan terdapat muatan listrik
dengan kerapatan muatan yang besar dimana muatan itu akan menyebar di dalam
tanah dengan arah radial. Penyebaran muatan ini akan menyebabkan adanya
tegangan langkah pada manusia yang ada di sekitar titik sambaran, serta dapat
membahayakan. Tegangan langkah merupakan tegangan yang timbul antara dua bagian
tubuh manusia yang berada pada suatu gradien tegangan, sehingga antara kedua
bagian tubuh tersebut timbul beda tegangan dan menyebabkan arus listrik
mengalir di dalam tubuh
- Terhadap bangunan
Penyebab dari kerusakan bangunan yang diakibatkan oleh sambaran petir
terutama adalah karena besar dari arus petir dan kecuraman arus petir,
yang mana besarnya dapat mencapai 200 kA. Kerusakan tersebut dapat berupa
kerusakan thermis, seperti terbakar pada bagian yang tersambar, bisa juga
berupa mekanis, seperti atap runtuh, bangunan retak dan lain-lain. Bahan
bangunan yang paling parah bila terkena sambaran petir adalah yang
bersifat kering, isolasi maupun semi-isolasi.
- Kontrol
Instalasi Penangkal Petir, Prosedur tentang Petir, Daftar Pengecekan,
Training / Pelatihan dan Perawatan.
- Prosedur Tentang Petir
- Bila terjadi badai dan kelihatan ada petir, hindari tempat-tempat
seperti: tempat yang basah / perairan, tempat terbuka, berlindung di
bawah pohon tinggi, bangunan tinggi tanpa penangkal petir, tempat yang
dekat dengan pembumian penangkal petir, trafo pada gardu listrik, dekat
bahan peledak dan lain-lain.
- Bila mengoperasikan benda-benda yang tinggi, seperti pipa bor,
sebaiknya direndahkan.
- Bila kita berdiri di daerah terbuka, usahakan menunduk serendah
mungkin, dan Jangan Menjadi Objek Yang Paling Tinggi, Jangan Merebahkan
atau menelentangkan badan / tiarap di tanah.
- Instalasi Penangkal Petir
Ialah suatu sistem dengan komponen-komponen dan peralatan-peralatan yang
secara keseluruhan berfungsi untuk menangkap petir dan menyalurkannya ke
tanah. Sistem tersebut harus dipasang sedemikian rupa sehingga semua
bagian dari bangunan beserta isinya atau benda-benda yang dilindunginya
terhindar dari bahaya sambaran petir baik secara langsung atau tidak
langsung.
- Komponen-Komponen dari Penangkal Petir Yang Nantinya Perlu Diadakan
Pengecekan dan Perawatan.
- Penangkap petir adalah penghantar-penghantar di atas bangunan yang
berupa elektroda logam yang dipasang tegak dan mendatar
- Penghantar Penyalur Utama adalah penghantar dari logam dengan luas
penampang serta bahan tertentu yang berfungsi untuk menyalurkan arus
petir ke tanah.
- Penghantar pembantu yaitu semua penghantar lainnya yang
dimanfaatkan sebagai pembantu penyalur arus petir, misalnya pipa air
hujan dari logam, konstruksi logam dari bgian bangunan.
- Penghantar Hubung yaitu penghantar dari logam yang menghubungkan
masing-masing penangkap petir atau dengan bagian-bagian logam di dalam
atau di dalam bangunan.
- Terminal Hubung yaitu suatu dudukan dari logam yang berfungsi
sebagai titik hubung bersama dari beberapa penghantar penyalur dan benda
logam lain yang akan dibumikan.
- Sambungan Ukur yaitu sambungan listrik antara penghantar penyalur
dengan pengebumian dengan cara penyambungan yang dapat dilepas untuk
pengukuran besar tahanan penghantar dan tahanan pengebumian.
- Pengebumian yaitu elektrode dari logam yang di tanam di dalam
tanah yang berfungsi untuk menyebarkan arus petir ke tanah, dapat berupa
elektroda pita, batang atau plat.
Besarnya kebutuhan suatu bangunan akan instalasi
penangkal petir, ditentukan oleh besarnya kemungkinan kerusakan serta bahaya
yang ditimbulkan bila bangunan tersebut tersambar petir. Besarnya kebutuhan itu
dapat diperhitungkan secara empiris berdasrkan indeks-indeks yang menyatakan
faktor-faktor tertentu seperti diperlihatkan pada tabel di bawah ini. Dari
Penjumlahan indeks-Indeks ini akan diperoleh nilai perkiraan bahaya akibat
sambaran petir.
|
No
|
Penggunaan dan Isi
|
Indeks A
|
|
1
|
Bangunan dan isinya jarang digunakan
|
0
|
|
2
|
Bangunan tempat tinggal, toko, pabrik kecil
|
2
|
|
3
|
Bangunan dan isinya cukup penting misalnya menara air, pabrik, gedung
pemerintahan
|
2
|
|
4
|
Bangunan untuk umum, misalnya bioskop, sekolah, masjid, dan gereja
|
3
|
|
5
|
Instalasi gas, bensin, dan rumah sakit
|
5
|
|
6
|
Bangunan yang mudah meledak
|
15
|
|
No
|
Konstruksi Bangunan
|
Indeks B
|
|
1
|
Seluruh bangunan terbuat dari logam (mudah menyalurkan arus listrik)
|
0
|
|
2
|
Bangunan dengan konstruksi beton bertulang atau rangka besi dengan
atap logam
|
1
|
|
3
|
Bangunan dengan konstruksi beton bertulang atau rangka besi dengan
atap bukan logam
|
2
|
|
4
|
Bangunan kayu dengan atap bukan logam
|
3
|
|
No
|
Tinggi Bangunan (dalam meter)
|
Indeks C
|
|
1
|
0 sampai dengan 6
|
0
|
|
2
|
> 6 sampai dengan 12
|
2
|
|
3
|
> 12 sampai dengan 17
|
3
|
|
4
|
> 17 sampai dengan 25
|
4
|
|
5
|
> 25 sampai dengan 35
|
5
|
|
6
|
> 35 sampai dengan 50
|
6
|
|
7
|
> 50 sampai dengan 70
|
7
|
|
8
|
> 70 sampai dengan 100
|
8
|
|
9
|
> 100 sampai dengan 140
|
9
|
|
10
|
> 140 sampai dengan 200
|
10
|
|
No
|
Situasi Bangunan
|
Indeks D
|
|
1
|
Pada tanah datar di semua ketinggian
|
0
|
|
2
|
Di kaki bukti sampai tiga per empat tinggi bukit atau di pegunungan
sampai 1000 meter
|
1
|
|
3
|
Di puncak gunung atau pegunungan lebih dari 1000 meter
|
2
|
|
No
|
Hari Guntur Per tahun
|
Indeks E
|
|
1
|
2
|
0
|
|
2
|
4
|
1
|
|
3
|
8
|
2
|
|
4
|
16
|
3
|
|
5
|
32
|
4
|
|
6
|
64
|
5
|
|
7
|
128
|
6
|
|
8
|
256
|
7
|
|
R=A+B+C+D+E
|
Perkiraan Bahaya
|
Instalasi Petir
|
|
< 11
|
Diabaikan
|
Tidak Perlu
|
|
11
|
Kecil
|
Tidak Perlu
|
|
12
|
Sedang
|
Agak Dianjurkan
|
|
13
|
Agak Besar
|
Dianjurkan
|
|
14
|
Besar
|
Sangat Dianjurkan
|
|
> 14
|
Sangat Besar
|
Sangat Perlu
|
- Recovery / Pemulihan
Kesiapan kita dalam membuat prosedur Emergency Contingency Plan ( Rencana
Tanggap Keadaan Darurat), Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan dan
lain-lain.
- Kelistrikan Udara/Lightning
- Petir adalah salah satau fenomena
kelistrikan udara di alam. Indonesia
terletak di daerah khatulistiwa yang panas dan lembab, mengakibatkan
terjadinya hari guruh (IKL=isokronic Level) yang sangat tinggi dibanding
daerah lainnya (100-200 hari pertahun), bahkan daerah Cibinong sempat
tercatat pada Guiness Book of Record 1988, dengan jumlah 322 petir
pertahun. Kerapatan petir di Indonesia juga sangat besar
yaitu 12/km2/tahun yang berarti setiap luas area 1 km2
berpotensi menerima sambaran petir sebanyak 12 kali setiap tahunnya.
Energi yang dihasilkan oleh satu sambaran petir mencapai 55 kwhours.
-
- Seperti kita ketahui Indonesia
terletak pada daerah tropis dengan tingkat resiko kerusakan yang cukup
tinggi dibandingkan daerah subtropis karena jumlah sambaran petir didaerah
tropis jauh lebih banyak dan lebih rapat. Semakin hari semakin besar
jumlah kerusakan yang ditimbulkan, karena semakin banyaknya pemakaian
komponen elektronik oleh masyarakat luas dan industri.
-
- Sambaran Petir dapat menyebabkan
kerusakan harta benda dan menimbulkan korban jiwa. Proses terjadinya
sambaran petir dapat secara langsung kepada objek/bendanya atau tidak
langsung yaitu melalui radiasi, konduksi, atau induksi gelombang
elektromagnetik petir. Di negara kita dampak kejadian petir relatif
tinggi, mulai dari meninggalnya seorang petani yang sedang disawah sampai
terhentinya produksi sebuah kilang minyak penghasil devisa Negara.
Sambaran Petir juga dapat merusakkan peralatan eletronik seperti yang
dipergunakan dalam peralatan industri, perbankan, instalasi penting
(seperti; PLN, Telkom, instalasi yang menggunakan komputer, dsb), yang
semuanya mengakibatkan kerugian bagi pemiliknya.
-
- Untuk mengurangi dampak akibat
sambaran petir, maka perlu data tingkat kerawanan terhadap petir, sehingga
dapat dibangun sistem perlindungan terhadap petir yang sesuai system
peralatan, bangunan, atau yang dapat menjadi sasaran sambaran petir. Salah
satu data tingkat kerawanan petir adalah peta isocronic level.
Sambaran petir bermanfaat bagi pertanian/tanaman karena sambaran petir
dapat meningkatkan kandungan nitrogen/hara.